LAPORAN
PRAKTIKUM
FARMASI FISISKA I
PERCOBAAN
I
KELARUTAN INTRINSIK
OBAT
OLEH :
NAMA : SAKINAH
STAMBUK
: F1F111023
KELOMPOK : II
KELAS : B
ASISTEN : DIAN PERMANA, S.Si
JURUSAN
FARMASI
FAKULTAS
MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS
HALUOLEO
KENDARI
2012
KELARUTAN INTRINSIK OBAT
A. TUJUAN
Adapun tujuan dalam
praktikum ini adalah untuk memperkenalkan konsep dan proses sistem kelarutan
obat dan menentukan parameter kelarutan zat.
B. LANDASAN TEORI
Kelarutan didefinisikan
dalam besaran kuantitatif sebagai konsentrasi zat terlarut dalam larutan jenuh
pada temperatur tertentu, dan secara kualitatif didefinisikan sebagai interaksi
spontan dari dua atau lebih zat untuk membentuk dispersinmolekuler homogen. Kelarutan suatu senyawa bergantung pada sifat fiska dan
kimia zat terlarut dan pelarut, juga bergantung pada faktor teempertur,
tekanan, pH larutan, dan untuk jumlah yang lebih kecil bergantung pada hal
terbaginya zat terlarut (Martin,dkk,1990).
Larutan terdiri
dari beberapa, antara lain larutan jenuh, larutan tidak jenuh atau hampir
jenuh, dan larutan lewat jenuh. Larutan
jenuh adalah suatu arutan di mana zat terlarut berada
dalam kesetimbangan dengan fase padat zat terlarut). Suatu larutan tidak jenuh atau hampir jenuh adalah suatu larutan yang
mengandung hampir zat terlarut dalam konsentrasi di bawah konsentrasi yang
dibutuhkan untk penjenuhan sempurna pada temperatur tertentu. Sedangkan larutan lewat jenuh adalah suatu larutan
yang mengandung zat terlarut dalam konsentrasi lebih banyak daripada yang
seharusnya pada temperatur tertentu, terdapat juga zat terlarut yang tidak
larut (Martin,dkk, 1990).
Menurut Farmakope
Indonesia IV, kelarutan terutama dimaksudkan terutama sebagai informasi dalam
penggunaan, pengolahan dan peracikan suatu bahan, kecuali apabila disebutkan
khusus dalam judul tersendiri dan disertai cara ujinya secara kuantitatif
(Anonim,1990).
Ahli farmasi
mengetahui bahwa air adalah pelarut yang baik untuk garam, gula, dan senyawa sejenis,
sedang minyak mineral dan benzena biasanya merupakan pelarut untuk zat yang
biasanya hanya sedikit larut dalam air. Penemuan empiris ini disimpulkan dalam
pernyatan : like dissolved like. Hal
ini berkaitan dengan kepolaran suatu pelarut (Martin,dkk,1990).
Kelarutan obat
sebagian besar disebabkan oleh polaritas dari pelarut, yaitu oleh dipol
momennya. Pelarut polar melarutkan zat terlarut ionik dan zat polar lain.
Sesuai dengan itu, air bercampur dengan alkohol dalam segala perbandingan dan
melarutkan gula dan senyawa polihidroksi yang lain. Kelarutan zat juga
bergantung pada gambaran struktur seperti perbandingan gugus polar terhadap
gugus nonpolar dari molekul. Apabila panjang rantai nonpolar dari alkohol
alifatik bertambah, kelarutan seyawa tersebut dalam air akan berkurang. Rantai
lurus alkohol monohidroksi, aldehida, keton, dan asam yang mengandung lebih
dari 4 atau 5 karbon, tidak dapat memasuki struktur ikatan hidrogen dari air
dan oleh karena itu hanya larut sedikit. Apabila ada gugus polar tambahan dalam
molekul, seperti pada propilena glikol, gliserin, dan asam tartrat, kelarutan
dalam air naik banyak (Martin,dkk,1990).
Sebaliknya, aksi
pelarut dari cairan nonpolar, seperti hidrokarbon berbeda dengan zat polar.
Pelarut nonpolar tidak dapat mengurangi gaya tarik-menarik antara ion-ion
elektrolit kuat dan lemah, karena tetapan dielektrik pelarut yang rendah.
Pelarut juga tidak dapat memecahkan ikatan kovalen dan elektrolit yang
berionisasi lemah karena pelarut
nonopolar termasuk dalam golongan pelarut aprotik, yakni pelarut yang tidak
menerima juga tidak memberi proton, dan dalam keadaan ini dapat menjadi netral
(Martin,dkk,1990).
Dikenal pula
pelarut semipolar. Pelarut semipolar seperti keton dan alkohol dapat mengiduksi suatu derajat polaritas
tertentu dalam molekul pelarut nonpolar, sehingga menjadi dapat larut dalam
alkohol, contohnya benzena yang mudah dapat dipolarisasikan. Kenyataannya,
senyawa semipolar dapat bertindak sebagai pelarut
perantara yang dapat menyebabkan bercampurnya cairan polar dan nonpolar
(Matin,dkk,1990).
Berbagai
macam obat analgetik, antireumatik dan antiinflamasi dewasa ini banyak sekali
digunakan oleh masyarakat. Untuk obat-obat golongan ini dikehendaki adanya efek
terapi yang cepat. Efek ini dapat dipenuhi apabila obat tersebut dapat
diabsorbsi dengan cepat dan disertai dengan dosis yang cukup. Banyak bahan obat
yang mempunyai kelarutan dalam air yang rendah atau dinyatakan praktis tidak
larut, umumnya mudah larut dalam cairan organik. Senyawa-senyawa yang tidak
larut seringkali menunjukkan absorbsi yang tidak sempurna atau tidak menentu.
Propilen glikol atau propana-1,2-diol adalah salah satu jenis pelarut atau
kosolven yang dapat digunakan untuk meningkatkan kelarutan suatu obat dalam
formulasi sediaan cair, semi padat dan sediaan transdermal (Widyaningsih, 2009).
Bahan tambahan yang digunakan dalam formulasi
sediaan farmasi seringkali mempengaruhi sifat kimia fisika bahan aktif.
Propilenglikol adalah bahan yang banyak digunakan dalam formulasi sediaan
semipadat, sediaan cair dan transdermal sebagai ksolven, penambahnviskositas
dan plastizier. Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa keberadaan
propilenglikol dalam medium meningkatkan kelarutan semu beberapa zat, misalnya
teofilin dan kofein (Nugroho,dkk,2000).
Dalam praktikum ini
digunakan metode tritrasi. Dalam titrasi dikenal istilah asidimetri dan
alkalimetri. Asidmetri dan alkalimetri termasuk reaksi netralisasi, yakni
reaksi antra ion hidrogen yang merasal dari asam dengan ion hidroksida yang
berasal dari basa untuk menghasilkan air yag bersifat netral. Netralisasi dapat
juga dikatakan sebagai reaksi antara pemberi proton (asam) dengan penerima
proton (basa). Asidimetri merupakan penetapan kadar secara kuantitatif terhadap
senyawa-senyawa yang bersifat basa dengan menggunakan baku asam. Sebaliknya,
alkalimetri merupakan penetapan kadar senyawa-senyawa yang bersifat asam dengan
menggunakan baku basa (Gandjar,dkk, 2007).
Pada awal titrasi,
perubahan nilai pH berlangsung lambat sampai menjelang titik ekuivalen. Pada
saat titik ekuivalen, nilai pH meningkat secara drastis. Untuk mengamati titik
akhir titrasi dapat digunakan indikator atau menggunakan metode elektrokimia.
Suatu indikator merupakan asam atau basa lemah yang berubah warna di antara
bentuk terionisasinya dan bentuk tidak terionisasinya. Kisaran penggunaan
indikator adalah 1 unit pH disekitar nilai pKa-nya. Sebagai contoh fenolftalein
(PP), mempunyai pKa 9,4 (perubahan warna antara 8,4-10,4) (Gandjar,dkk,2007).
C. ALAT DAN BAHAN
1. ALAT
Adapun alat-alat
yang digunakan dalam praktikum ini adalah :
§
Statif
dan klem
§
Pipet
ukur 10 ml
§
Erlenmeyer
7 buah
§
Tabung
reaksi 7 buah
§
Corong
§
Filler
§
Botol
semprot
§
Gelas
kimia
§
Kertas
saring
2. BAHAN
Adapun bahan-bahan
yang digunakan dalam praktikum ini adalah :
§
Asam
salisilat 0,5 gram
§
Propilenglikol
§
NaOH
0,1 N
§
Etanol
§
Akuades
§
Tissue
D. PROSEDUR KERJA
6 ml akuades dalam 7 buah tabung reaksi:
-
Ditambahkan indikator fenolftalein
- Dititrasi
dengan NaOH 0,1 N
- Ditentukan
kadar Asam Salisilatnya
|
-
Ditambahkan etanol:
Tb. 1 = 0 ml;
Tb. 2 = 0,5 ml; Tb. 3 = 1 ml; Tb. 4 = 1,5 ml; Tb. 5 = 3 ml; Tb. 6 = 3,5
ml; Tb. 7 = 4 ml
- Ditambahkan
Propylenglycol:
Tb. 1 = 4 ml;
Tb. 2 = 3,5 ml; Tb. 3 = 3 ml; Tb. 4 =
1,5 ml; Tb. 5 = 1 ml; Tb. 6 = 30,5 ml; Tb. 7 = 0 ml
- Ditambahkan
asam salisilat masing-masing 1 gram
- Dikocok
selama 20 menit
- Disaring
|
6 ml akuades dalam 7 buah tabung
reaksi
|
Filtrat:
- Ditambahkan indikator fenolftlein
- Dititrasi dengan NaOH 0,1N
- Ditentukan kadar asam salisilat
|
Hasil
pengamatan :
Tb.1
: 0,07
M
Tb.2 : 0,154 M
Tb.3 : 0,176 M
Tb.4 : 0,098 M
Tb.5 : 0,076 M
Tb.6 : 0,186 M
Tb.7 : 0,146 M
E. HASIL PENGAMATAN1. TABEL HASIL PENGAMATAN
Tabung
Volume (ml)
Asam
salisilat (gram)
Volume NaOH
(ml)
Akuades
Etanol
propilenglikol
1
6
0
4
0.5
5.3
2
6
0.5
3.5
0.5
7.7
3
6
1
3
0.5
8.8
4
6
1.5
1.5
0.5
4.9
5
6
3
1
0.5
3.8
6
6
3.5
0.5
0.5
9.3
7
6
4
0
0.5
7.3
1. PERHITUNGANa) Molaritas NaOH
Diketahui : Normalitas NaOH = 0,1 N
Ditanyakan : Molaritas NaOH…….?
Penyelesaian :
b) Kadar Asam Salisilat
§ Tabung
1
Diketahui : V
NaOH = 5,3 mL
M NaOH = 0,1 M
V asam salisilat = 5 mL
Ditanyakan : Kadar
asam salisilat…….?
Peryelesaian :
V NaOH
x M NaOH = V asam salisilat x M asam
salisilat
3,5
mL x 0,1 M = 5 mL x M asam salisilat
M asam
salisilat = 0,07
M
§ Tabung
2
Diketahui : V
NaOH = 7,7 mL
M NaOH = 0,1 M
V asam salisilat = 5 mL
Ditanyakan : Kadar
asam salisilat…….?
Peryelesaian :
V NaOH x M NaOH = V asam salisilat x M asam salisilat
7,7
mL x 0,1 M = 5 mL x M asam salisilat
M
asam salisilat =
0,154 M
§ Tabung 3
Diketahui : V
NaOH = 8,8 mL
M NaOH = 0,1 M
V asam salisilat = 5 mL
Ditanyakan : Kadar
asam salisilat…….?
Peryelesaian :
V
NaOH x M NaOH = V asam salisilat x M asam
salisilat
8,8 mL x 0,1 M = 5 mL x M asam
salisilat
M
asam salisilat =
0,176 M
§ Tabung 4
Diketahui : V
NaOH = 4,9 mL
M NaOH = 0,1 M
V asam salisilat = 5 mL
Ditanyakan : Kadar
asam salisilat…….?
Peryelesaian :
V
NaOH x M NaOH = V asam salisilat x M asam
salisilat
4,9
mL x 0,1 M = 5 mL x M asam salisilat
M
asam salisilat =
0,098 M
§ Tabung
5
Diketahui : V
NaOH = 3,8 mL
M NaOH = 0,1 M
V asam salisilat = 5 mL
Ditanyakan : Kadar
asam salisilat…….?
Peryelesaian :
V
NaOH x M NaOH = V asam salisilat x M asam
salisilat
3,8
mL x 0,1 M = 5 mL x M asam salisilat
M
asam salisilat =
0,076 M
§ Tabung
6
Diketahui : V
NaOH = 9,3 mL
M NaOH = 0,1 M
V asam salisilat = 5 mL
Ditanyakan : Kadar
asam salisilat…….?
Peryelesaian :
V
NaOH x M NaOH = V asam salisilat x M asam
salisilat
9,3
mL x 0,1 M = 5 mL x M asam salisilat
M
asam salisilat =
0,186 M
§ Tabung
7
Diketahui : V
NaOH = 7,3 mL
M NaOH = 0,1 M
V asam salisilat = 5 mL
Ditanyakan : Kadar
asam salisilat…….?
Penyelesaian :
V
NaOH x M NaOH = V asam salisilat x M asam
salisilat
7,3 mL x 0,1 M = 5 mL x M asam
salisilat
M
asam salisilat =
0,146 M
c) Konstanta dielektrik (ε) masing-masing pelarut dalam pelarut campuran
Ø Konstanta
dielektrik air dalam pelarut campur pada
tabung 1 – 7 :
Diketahui : ε
air =
80,4
V air =
60 (% v/v)
Ditanyakan : ε
air dalam pelarut campur…….?
Penyelesaian :
ε air dalam pelarut
campur = ε air × % v/v air
=
= 48,24
Ø Konstanta
dielektrik etanol (alkohol)
· Tabung
1
Diketahui : ε
etanol =
25,7
V etanol =
0 (% v/v)
Ditanyakan : ε
etanol dalam pelarut campur…….?
Penyelesaian :
εetanoldalam
pelarut campur = ε etanol
× % v/v etanol
= 25,7 ×
= 0
· Tabung
2
Diketahui : ε
etanol =
25,7
V etanol =
5 (% v/v)
Ditanyakan : ε
etanol dalam pelarut campur…….?
Penyelesaian :
ε
etanol
dalam pelarut campur = ε etanol
× % v/v etanol
= 25,7 ×
= 1,285
· Tabung
3
Diketahui : ε
etanol =
25,7
V etanol =
10 (% v/v)
Ditanyakan : ε
etanol dalam pelarut campur…….?
Penyelesaian :
ε
etanoldalam
pelarut campur = ε etanol × % v/v etanol
= 25,7 ×
= 2,57
· Tabung
4
Diketahui : ε
etanol =
25,7
V etanol =
15 (% v/v)
Ditanyakan : ε
etanol dalam pelarut campur…….?
Penyelesaian :
ε
etanol
dalam
pelarut campur = ε etanol × % v/v etanol
= 25,7 ×
= 3,855
· Tabung
5
Diketahui : ε
etanol =
25,7
V etanol =
30 (% v/v)
Ditanyakan : ε
etanol dalam pelarut campur…….?
Penyelesaian :
ε
etanol
dalam
pelarut campur = ε etanol × % v/v etanol
= 25,7 ×
= 7,71
· Tabung 6
Diketahui : ε
etanol =
25,7
V etanol =
35 (% v/v)
Ditanyakan : ε
etanol dalam pelarut campur…….?
Penyelesaian :
ε
etanol
dalam
pelarut campur = ε etanol × % v/v etanol
= 25,7
×
= 8,995
· Tabung
7
Diketahui : ε
etanol =
25,7
V etanol =
40 (% v/v)
Ditanyakan : ε
etanol dalam pelarut campur…….?
Penyelesaian :
ε
etanol
dalam
pelarut campur = ε etanol × % v/v etanol
= 25,7 ×
= 10,28
Ø Konstanta
dielektrik propilen glikol
· Tabung
1
Diketahui : ε
p.glikol =
50
V p.glikol = 40 (% v/v)
Ditanyakan : ε
p.glikol dalam pelarut campur…….?
Penyelesaian :
ε
p.glikol dalam pelarut campur = ε × %
v/v
=
50 ×
= 20
· Tabung
2
Diketahui : ε
p.glikol =
50
V p.glikol = 35 (% v/v)
Ditanyakan : ε
p.glikol dalam pelarut campur…….?
Penyelesaian :
ε
p.glikol dalam pelarut campur = ε × %
v/v
=
50
×
= 17,5
· Tabung
3
Diketahui : ε
p.glikol =
42.5
V p.glikol = 30 (% v/v)
Ditanyakan : ε
p.glikol dalam pelarut campur…….?
Penyelesaian :
ε
p.glikol
dalam pelarut campur = ε × %
v/v
=
50
×
= 15
· Tabung
4
Diketahui : ε
p.glikol =
50
V p.glikol = 15 (% v/v)
Ditanyakan : ε
p.glikol dalam pelarut campur…….?
Penyelesaian :
ε
p.glikol
dalam pelarut campur = ε × %
v/v
=
50
×
= 7,5
· Tabung
5
Diketahui : ε
p.glikol =
50
V p.glikol = 10 (% v/v)
Ditanyakan : ε
p.glikol dalam pelarut campur…….?
Penyelesaian :
εp.glikol
dalam pelarut campur = ε × %
v/v
= 50
×
= 5
· Tabung
6
Diketahui : ε
p.glikol =
50
V p.glikol = 5 (% v/v)
Ditanyakan : ε
p.glikol dalam pelarut campur…….?
Penyelesaian :
ε
p.glikol
dalam pelarut campur = ε × % v/v
=
50
×
= 2,5
· Tabung
7
Diketahui : ε
p.glikol =
42.5
V p.glikol = 0 (% v/v)
Ditanyakan : ε
p.glikol dalam pelarut campur…….?
Penyelesaian :
ε
p.glikol
dalam pelarut campur = ε × % v/v
= 42.5
×
=
0
3. Grafik
F. PEMBAHASAN
Pada percobaan ini, yang diujikan adalah kelarutan intrinsik
obat asam salisilat. Seperti yang telah diuraikan sebelumnya bahwa asam
salisilat merupakan senyawa yang termasuk asam lemah. Dalam percobaan asam
salisilat dimasukkan dalam tujuh tabung yang telah berisi akuades kemudian
dikocok selama 20 menit. Tujuan pengocokan ialah untuk mempercepat reaksi.
Setelah pengocokan akan tampak bahwa terdapat bagian asam salisilat yang tidak
larut dalam air. Selanjutnya asam salisilat tersebut ditambahkan dengan etanol
dan propilenglikol dengan volume yang berbeda-beda. Tujuan dari variasi volume
tersebut ialah untuk melihat pengaruh kepolaran terhadap asam salisilat. Di
mana penambahan propilenglikol membuat larutan semakin nonpolar, sedangkan
etanol merupakan senyawa yang bersifat polar, sehingga penambahan etanol
menambah kepolaran larutan.
Pada percobaan yang
telah dilakukan, dari tabung 1 hingga tabung 7 penambahan etanol semakin banyak
dengan volume tertentu, sebaliknya penambahan propilenglikol dari tabung 1
hingga tabung 7 semakin sedikit, sehingga jika berdasarkan uraian di atas,
hendaknya larutan yang bersifat paling polar ialah larutan pada tabung 7 karena
penambahan etanol yang banyak, yakni 4 ml dan tidak ditambahkan propilenglikol
(0 ml). Begitupun sebaliknya, jika berdasarkan uraian di atas hendaknya larutan
yang bersifat paling nonpolar ialah larutan pada tabung 1 karena pada larutan
tabung 1 tidak ditambahkan etanol dan mengalami penambahan propilenglikol
paling banyak jika dibanding pada tabung lain, yaitu 4 ml.
Kemudian, larutan
asam salisiliat, etanol, dan propilenglikol yang telah dikocok tadi disaring
dan diambil filratnya. Filtrat tersebut selanjutnya dititrasi dengan NaOH. Tujuan
titrasi ini ialah untuk mengetahui konsentrasi asam salisilat. Titrasi ini
disebut dengan titrasi asam basa karena zat yang hendak diketahui konsentrasinya
adalah asam, yakni asam salisilat dengan menggunakan bahan baku basa sebagai
penitran, dalam hal ini adalah larutan NaOH dan menggunakan indikator
fenolftalein (PP) sebagai penanda berakhirnya titrasi atau tercapainya titik
ekuivalen.
Semakin banyak
volume larutan NaOH yang digunakan untuk menitrasi asam salisilat menandakan
bahwa nilai konsentrasi asam salisilat tersebut semakin kecil, sebailknya
semakin sedikit volume larutan NaOH yang digunakan untuk menitrasi asam
salisilat menandakan bahwa nilai
konsentrasi asam salisilat semakin besar. Hal itu juga berkaitan dengan
kepolaran larutan asam salisilat, di mana semakin meningkat nilai kepolaran suatu
larutan tersebut maka semakin meningkat pula nilai konsentrasinya asam salisiat
yang larut.
Berdasarkan
penambahan etanol dan propilenglikol pada masing-masing tabung, maka hendaknya
tabung yang membutuhkan volume NaOH paling sedikit saat titrasi adalah tabung 7
karena bersifat paling polar dan tabung yang membutuhkan volume NaOH paling
banyak ialah tabung 1 karena bersifat paling nonpolar.
Namun, berdasarkan
titrasi yang dilakukan saat percobaan menunjukkan bahwa volume NaOH yang
dibutuhkan paling sedikit saat menitrasi asam salisilat ialah 3,8 ml pada
tabung 6 dan volume NaOH yang dibutuhkan paling banyak saat menitrasi ialah 9,3
ml pada tabung 6. Perbedaan hasil terhadap teori yang telah diuraikan
sebelumnya kemungkinan dipengaruhi karena terdapatnya kesalahan saat titrasi,
misalnya dengan penambahan NaOH yang berlebihan sehingga melewati titik
ekuivalen, ditandai dengan warna larutan yang terlalu ungu sedang larutan lain
yang tidak terlalu ungu.
Beberapa hal yang
telah diuraikan di atas juga berkaitan dengan konstata dielektrik pelarut
campur. Dari hasil perhitungan dan grafik di atas dapat dilihat pada garis
tredline bahwa konstanta dielektrik suatu pelarut campur berbanding terbalik
dengan konsentrasi asam salisilat, di mana semakin tinggi nilai konsentrasi
asam salisilat, maka nilai konstanta dielektriknya semakin rendah, sebaliknya
semakin rendh nilai konsentrasi asam salisilat, maka nilai konstanta
dielektriknya semakin tinggi.
Berbagai sifat dari
larutan yang telah diuraikan di atas, seperti kepolaran, konstanta dielektrik
merupakan beberapa pendukung sistem kelarutan obat.
B. KESIMPULAN
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat ditarik
kesimpulan sebagai berikut :
1)
Beberapa
faktor pendikung sistem kelarutan obat, misalnya kepolaran pelarut dan zat terlarut, serta
konstanta dielektrik.
2)
Penggunaan larutan
campuran mempengaruhi jumlah asam salisilat yang terlarut. Hal ini dibuktikan
dengan konsentrasi asam salisilat yang berbeda pada masing – masing tabung
(tabung telah dibuat dalam tujuh perlakuan yang berebeda).
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
No comments:
Post a Comment