Translate

Monday, December 10, 2012

Kelarutan Intrinsik Obat


LAPORAN
PRAKTIKUM FARMASI FISISKA I
PERCOBAAN I
KELARUTAN INTRINSIK OBAT



OLEH :
NAMA                       :           SAKINAH
STAMBUK               :           F1F111023
KELOMPOK           :           II
KELAS                      :           B
ASISTEN                  :           DIAN PERMANA, S.Si




JURUSAN FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2012




KELARUTAN INTRINSIK OBAT


A.           TUJUAN

Adapun tujuan dalam praktikum ini adalah untuk memperkenalkan konsep dan proses sistem kelarutan obat dan menentukan parameter kelarutan zat.

B.            LANDASAN TEORI

Kelarutan didefinisikan dalam besaran kuantitatif sebagai konsentrasi zat terlarut dalam larutan jenuh pada temperatur tertentu, dan secara kualitatif didefinisikan sebagai interaksi spontan dari dua atau lebih zat untuk membentuk dispersinmolekuler homogen. Kelarutan suatu senyawa bergantung pada sifat fiska dan kimia zat terlarut dan pelarut, juga bergantung pada faktor teempertur, tekanan, pH larutan, dan untuk jumlah yang lebih kecil bergantung pada hal terbaginya zat terlarut (Martin,dkk,1990).
Larutan terdiri dari beberapa, antara lain larutan jenuh, larutan tidak jenuh atau hampir jenuh, dan larutan lewat jenuh. Larutan jenuh adalah suatu arutan di mana zat terlarut berada dalam kesetimbangan dengan fase padat zat terlarut). Suatu larutan tidak jenuh atau hampir jenuh adalah suatu larutan yang mengandung hampir zat terlarut dalam konsentrasi di bawah konsentrasi yang dibutuhkan untk penjenuhan sempurna pada temperatur tertentu. Sedangkan larutan lewat jenuh adalah suatu larutan yang mengandung zat terlarut dalam konsentrasi lebih banyak daripada yang seharusnya pada temperatur tertentu, terdapat juga zat terlarut yang tidak larut (Martin,dkk, 1990).
Menurut Farmakope Indonesia IV, kelarutan terutama dimaksudkan terutama sebagai informasi dalam penggunaan, pengolahan dan peracikan suatu bahan, kecuali apabila disebutkan khusus dalam judul tersendiri dan disertai cara ujinya secara kuantitatif (Anonim,1990).
Ahli farmasi mengetahui bahwa air adalah pelarut yang baik untuk garam, gula, dan senyawa sejenis, sedang minyak mineral dan benzena biasanya merupakan pelarut untuk zat yang biasanya hanya sedikit larut dalam air. Penemuan empiris ini disimpulkan dalam pernyatan : like dissolved like. Hal ini berkaitan dengan kepolaran suatu pelarut (Martin,dkk,1990).
Kelarutan obat sebagian besar disebabkan oleh polaritas dari pelarut, yaitu oleh dipol momennya. Pelarut polar melarutkan zat terlarut ionik dan zat polar lain. Sesuai dengan itu, air bercampur dengan alkohol dalam segala perbandingan dan melarutkan gula dan senyawa polihidroksi yang lain. Kelarutan zat juga bergantung pada gambaran struktur seperti perbandingan gugus polar terhadap gugus nonpolar dari molekul. Apabila panjang rantai nonpolar dari alkohol alifatik bertambah, kelarutan seyawa tersebut dalam air akan berkurang. Rantai lurus alkohol monohidroksi, aldehida, keton, dan asam yang mengandung lebih dari 4 atau 5 karbon, tidak dapat memasuki struktur ikatan hidrogen dari air dan oleh karena itu hanya larut sedikit. Apabila ada gugus polar tambahan dalam molekul, seperti pada propilena glikol, gliserin, dan asam tartrat, kelarutan dalam air naik banyak (Martin,dkk,1990).
Sebaliknya, aksi pelarut dari cairan nonpolar, seperti hidrokarbon berbeda dengan zat polar. Pelarut nonpolar tidak dapat mengurangi gaya tarik-menarik antara ion-ion elektrolit kuat dan lemah, karena tetapan dielektrik pelarut yang rendah. Pelarut juga tidak dapat memecahkan ikatan kovalen dan elektrolit yang berionisasi  lemah karena pelarut nonopolar termasuk dalam golongan pelarut aprotik, yakni pelarut yang tidak menerima juga tidak memberi proton, dan dalam keadaan ini dapat menjadi netral (Martin,dkk,1990).
Dikenal pula pelarut semipolar. Pelarut semipolar seperti keton dan alkohol dapat mengiduksi suatu derajat polaritas tertentu dalam molekul pelarut nonpolar, sehingga menjadi dapat larut dalam alkohol, contohnya benzena yang mudah dapat dipolarisasikan. Kenyataannya, senyawa semipolar dapat bertindak sebagai pelarut perantara yang dapat menyebabkan bercampurnya cairan polar dan nonpolar (Matin,dkk,1990).
Berbagai macam obat analgetik, antireumatik dan antiinflamasi dewasa ini banyak sekali digunakan oleh masyarakat. Untuk obat-obat golongan ini dikehendaki adanya efek terapi yang cepat. Efek ini dapat dipenuhi apabila obat tersebut dapat diabsorbsi dengan cepat dan disertai dengan dosis yang cukup. Banyak bahan obat yang mempunyai kelarutan dalam air yang rendah atau dinyatakan praktis tidak larut, umumnya mudah larut dalam cairan organik. Senyawa-senyawa yang tidak larut seringkali menunjukkan absorbsi yang tidak sempurna atau tidak menentu. Propilen glikol atau propana-1,2-diol adalah salah satu jenis pelarut atau kosolven yang dapat digunakan untuk meningkatkan kelarutan suatu obat dalam formulasi sediaan cair, semi padat dan sediaan transdermal (Widyaningsih, 2009).
Bahan tambahan yang digunakan dalam formulasi sediaan farmasi seringkali mempengaruhi sifat kimia fisika bahan aktif. Propilenglikol adalah bahan yang banyak digunakan dalam formulasi sediaan semipadat, sediaan cair dan transdermal sebagai ksolven, penambahnviskositas dan plastizier. Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa keberadaan propilenglikol dalam medium meningkatkan kelarutan semu beberapa zat, misalnya teofilin dan kofein (Nugroho,dkk,2000).

Dalam praktikum ini digunakan metode tritrasi. Dalam titrasi dikenal istilah asidimetri dan alkalimetri. Asidmetri dan alkalimetri termasuk reaksi netralisasi, yakni reaksi antra ion hidrogen yang merasal dari asam dengan ion hidroksida yang berasal dari basa untuk menghasilkan air yag bersifat netral. Netralisasi dapat juga dikatakan sebagai reaksi antara pemberi proton (asam) dengan penerima proton (basa). Asidimetri merupakan penetapan kadar secara kuantitatif terhadap senyawa-senyawa yang bersifat basa dengan menggunakan baku asam. Sebaliknya, alkalimetri merupakan penetapan kadar senyawa-senyawa yang bersifat asam dengan menggunakan baku basa (Gandjar,dkk, 2007).
Pada awal titrasi, perubahan nilai pH berlangsung lambat sampai menjelang titik ekuivalen. Pada saat titik ekuivalen, nilai pH meningkat secara drastis. Untuk mengamati titik akhir titrasi dapat digunakan indikator atau menggunakan metode elektrokimia. Suatu indikator merupakan asam atau basa lemah yang berubah warna di antara bentuk terionisasinya dan bentuk tidak terionisasinya. Kisaran penggunaan indikator adalah 1 unit pH disekitar nilai pKa-nya. Sebagai contoh fenolftalein (PP), mempunyai pKa 9,4 (perubahan warna antara 8,4-10,4) (Gandjar,dkk,2007).


C.            ALAT DAN BAHAN

1.        ALAT

Adapun alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah :
§   Statif dan klem
§   Pipet ukur 10 ml
§   Erlenmeyer 7 buah
§   Tabung reaksi 7 buah
§   Corong
§   Filler
§   Botol semprot
§   Gelas kimia
§   Kertas saring

2.        BAHAN

Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah :
§   Asam salisilat 0,5 gram
§   Propilenglikol
§   NaOH 0,1 N
§   Etanol
§   Akuades
§   Tissue


D. PROSEDUR KERJA

6 ml akuades dalam 7 buah tabung reaksi:

-  Ditambahkan indikator fenolftalein
-  Dititrasi dengan NaOH 0,1 N
-  Ditentukan kadar Asam Salisilatnya
-  Ditambahkan etanol:
Tb. 1 = 0 ml; Tb. 2 = 0,5 ml; Tb. 3 = 1 ml; Tb. 4 = 1,5 ml; Tb. 5 = 3 ml; Tb. 6 = 3,5 ml; Tb. 7 = 4 ml
-  Ditambahkan Propylenglycol:
Tb. 1 = 4 ml; Tb. 2 = 3,5 ml; Tb. 3 = 3 ml; Tb. 4 =  1,5 ml; Tb. 5 = 1 ml; Tb. 6 = 30,5 ml; Tb. 7 = 0 ml
-  Ditambahkan asam salisilat masing-masing 1 gram
-  Dikocok selama 20 menit
-  Disaring
6 ml akuades dalam 7 buah tabung reaksi

Filtrat:
- Ditambahkan indikator fenolftlein
- Dititrasi dengan NaOH 0,1N
- Ditentukan kadar asam salisilat

Hasil pengamatan :
Tb.1 : 0,07 M
Tb.2 : 0,154 M
Tb.3 : 0,176 M
Tb.4 : 0,098 M
Tb.5 : 0,076 M
Tb.6 : 0,186 M
Tb.7 : 0,146 M


E.          HASIL PENGAMATAN


1.    TABEL HASIL PENGAMATAN


Tabung
Volume (ml)
Asam salisilat (gram)
Volume NaOH (ml)
Akuades
Etanol
propilenglikol
1
6
0
4
0.5
5.3
2
6
0.5
3.5
0.5
7.7
3
6
1
3
0.5
8.8
4
6
1.5
1.5
0.5
4.9
5
6
3
1
0.5
3.8
6
6
3.5
0.5
0.5
9.3
7
6
4
0
0.5
7.3
 

1.    PERHITUNGAN

a)        Molaritas NaOH

Diketahui                :           Normalitas NaOH = 0,1 N
Ditanyakan             :           Molaritas NaOH…….?
Penyelesaian           :
             



b)        Kadar Asam Salisilat

§  Tabung 1
Diketahui           :  V NaOH                  = 5,3 mL
                              M NaOH                 = 0,1 M
                              V asam salisilat        = 5 mL
Ditanyakan         :  Kadar asam salisilat…….?
Peryelesaian       :
                                    V NaOH x M NaOH           =     V asam salisilat x M asam salisilat
                                    3,5  mL x 0,1 M          =     5 mL x M asam salisilat
                                    M asam salisilat                  =     0,07 M
§  Tabung 2
                     Diketahui             :  V NaOH                  = 7,7 mL
                              M NaOH                 = 0,1 M
                              V asam salisilat        = 5 mL
Ditanyakan         :  Kadar asam salisilat…….?
Peryelesaian       :
V NaOH x M NaOH                =     V asam salisilat x M asam salisilat
      7,7  mL x 0,1 M          =     5 mL x M asam salisilat
      M asam salisilat                  =     0,154 M
§   Tabung  3
Diketahui           :  V NaOH                  = 8,8 mL
                              M NaOH                 = 0,1 M
                              V asam salisilat        = 5 mL
Ditanyakan         :  Kadar asam salisilat…….?
Peryelesaian       :
      V NaOH x M NaOH           =     V asam salisilat x M asam salisilat
      8,8 mL x 0,1 M           =     5 mL x M asam salisilat
      M asam salisilat                  =     0,176 M
§  Tabung  4
Diketahui           :  V NaOH                  = 4,9 mL
                              M NaOH                 = 0,1 M
                              V asam salisilat        = 5 mL
Ditanyakan         :  Kadar asam salisilat…….?
Peryelesaian       :
      V NaOH x M NaOH           =     V asam salisilat x M asam salisilat
      4,9  mL x 0,1 M          =     5 mL x M asam salisilat
      M asam salisilat                  =     0,098 M
§  Tabung 5
Diketahui           :  V NaOH                  = 3,8 mL
                              M NaOH                 = 0,1 M
                              V asam salisilat        = 5 mL
Ditanyakan         :  Kadar asam salisilat…….?
Peryelesaian       :
      V NaOH x M NaOH           =     V asam salisilat x M asam salisilat
      3,8  mL x 0,1 M          =     5 mL x M asam salisilat
      M asam salisilat                  =     0,076 M
§  Tabung 6
Diketahui           :  V NaOH                  = 9,3 mL
                              M NaOH                 = 0,1 M
                              V asam salisilat        = 5 mL
Ditanyakan         :  Kadar asam salisilat…….?
Peryelesaian       :
      V NaOH x M NaOH           =     V asam salisilat x M asam salisilat
      9,3  mL x 0,1 M          =     5 mL x M asam salisilat
      M asam salisilat                  =     0,186 M
§  Tabung 7
Diketahui           :  V NaOH                  = 7,3 mL
                              M NaOH                 = 0,1 M
                              V asam salisilat        = 5 mL
Ditanyakan         :  Kadar asam salisilat…….?
Penyelesaian       :
      V NaOH x M NaOH           =     V asam salisilat x M asam salisilat
      7,3 mL x 0,1 M           =     5 mL x M asam salisilat
      M asam salisilat                  =     0,146 M

c)        Konstanta dielektrik (ε) masing-masing pelarut dalam pelarut campuran

Ø  Konstanta dielektrik air dalam pelarut campur pada tabung  1 – 7 :
Diketahui           :  ε   air       = 80,4
                              V air       = 60 (% v/v)
Ditanyakan         :  ε air dalam pelarut campur…….?
Penyelesaian       :
ε air dalam pelarut campur    =  ε air × % v/v air
                                               = 
                                               =  48,24
Ø Konstanta dielektrik etanol (alkohol)
·   Tabung 1
Diketahui           :  ε   etanol     = 25,7
                              V etanol     = 0 (% v/v)
Ditanyakan         :  ε etanol dalam pelarut campur…….?
Penyelesaian    :
εetanoldalam pelarut campur     =  ε etanol × % v/v etanol
                                                   =  25,7 ×
                                                   =  0
·   Tabung 2
Diketahui           :  ε   etanol     = 25,7
                              V etanol     = 5 (% v/v)
Ditanyakan         :  ε etanol dalam pelarut campur…….?




Penyelesaian       :
ε etanol dalam pelarut campur   =  ε etanol × % v/v etanol
                                                   =  25,7 ×
                                                   =  1,285
·   Tabung 3
Diketahui           :  ε   etanol     = 25,7
                              V etanol     = 10 (% v/v)
Ditanyakan         :  ε etanol dalam pelarut campur…….?
Penyelesaian       :
ε etanoldalam pelarut campur = ε etanol × % v/v etanol
                                                   =  25,7 ×
                                                   =  2,57
·   Tabung 4
Diketahui           :  ε   etanol     = 25,7
                              V  etanol     = 15 (% v/v)
Ditanyakan         :  ε etanol dalam pelarut campur…….?
Penyelesaian       :
ε etanol dalam pelarut campur   =  ε etanol × % v/v etanol
                                                   =  25,7 × =       3,855
·   Tabung 5
Diketahui           :  ε   etanol     = 25,7
                              V etanol     = 30 (% v/v)
Ditanyakan         :  ε etanol dalam pelarut campur…….?
Penyelesaian       :
ε etanol dalam pelarut campur   =  ε etanol × % v/v etanol
                                                   =  25,7 ×
                                                   =  7,71
·   Tabung  6
Diketahui           :  ε   etanol     = 25,7
                              V etanol     = 35 (% v/v)
Ditanyakan         :  ε etanol dalam pelarut campur…….?
Penyelesaian       :
ε etanol dalam pelarut campur   =  ε etanol × % v/v etanol
                                                   =  25,7 ×
                                                   =  8,995
·   Tabung 7
Diketahui           :  ε   etanol     = 25,7
                              V  etanol     = 40 (% v/v)
Ditanyakan         :  ε etanol dalam pelarut campur…….?
Penyelesaian       :
ε etanol dalam pelarut campur   =  ε etanol × % v/v etanol
                                                   =  25,7 ×     =   10,28
Ø Konstanta dielektrik  propilen glikol
·   Tabung 1
Diketahui           :  ε   p.glikol   = 50
                              V p.glikol    = 40 (% v/v)
Ditanyakan         :  ε p.glikol dalam pelarut campur…….?
Penyelesaian       :
ε p.glikol dalam pelarut campur     = ε × % v/v
                                                        = 50 × = 20
·   Tabung 2
Diketahui           :  ε   p.glikol             = 50
                              V p.glikol              = 35 (% v/v)
Ditanyakan         :  ε p.glikol dalam pelarut campur…….?
Penyelesaian       :
ε p.glikol dalam pelarut campur     = ε  ×  % v/v
                                                        = 50 × = 17,5
·   Tabung 3
Diketahui           :  ε   p.glikol             = 42.5
                              V p.glikol              = 30 (% v/v)
Ditanyakan         :  ε p.glikol dalam pelarut campur…….?
Penyelesaian       :
ε p.glikol dalam pelarut campur     = ε  ×  % v/v
                                                        = 50 × = 15
·   Tabung 4
Diketahui           :  ε   p.glikol             = 50
                              V p.glikol              = 15 (% v/v)
Ditanyakan         :  ε p.glikol dalam pelarut campur…….?
Penyelesaian       :
ε p.glikol dalam pelarut campur     = ε  ×  % v/v
                                                         = 50 × = 7,5
·   Tabung 5
Diketahui           :  ε   p.glikol   = 50
                              V p.glikol    = 10 (% v/v)
Ditanyakan         :  ε p.glikol dalam pelarut campur…….?
Penyelesaian      :
εp.glikol dalam pelarut campur      = ε  ×  % v/v
                                                        = 50 ×  = 5
·   Tabung 6
Diketahui           :  ε   p.glikol   = 50
                              V p.glikol    = 5 (% v/v)
Ditanyakan         :  ε p.glikol dalam pelarut campur…….?
Penyelesaian       :
ε p.glikol dalam pelarut campur     = ε × % v/v
                                                        = 50 × = 2,5
·   Tabung 7
Diketahui           :  ε   p.glikol   = 42.5
                              V p.glikol    = 0 (% v/v)
Ditanyakan         :  ε p.glikol dalam pelarut campur…….?
Penyelesaian       :
ε p.glikol dalam pelarut campur     = ε × % v/v
                                                        = 42.5 × = 0

3.    Grafik 

 

F.           PEMBAHASAN

Pada percobaan  ini, yang diujikan adalah kelarutan intrinsik obat asam salisilat. Seperti yang telah diuraikan sebelumnya bahwa asam salisilat merupakan senyawa yang termasuk asam lemah. Dalam percobaan asam salisilat dimasukkan dalam tujuh tabung yang telah berisi akuades kemudian dikocok selama 20 menit. Tujuan pengocokan ialah untuk mempercepat reaksi. Setelah pengocokan akan tampak bahwa terdapat bagian asam salisilat yang tidak larut dalam air. Selanjutnya asam salisilat tersebut ditambahkan dengan etanol dan propilenglikol dengan volume yang berbeda-beda. Tujuan dari variasi volume tersebut ialah untuk melihat pengaruh kepolaran terhadap asam salisilat. Di mana penambahan propilenglikol membuat larutan semakin nonpolar, sedangkan etanol merupakan senyawa yang bersifat polar, sehingga penambahan etanol menambah kepolaran larutan.
Pada percobaan yang telah dilakukan, dari tabung 1 hingga tabung 7 penambahan etanol semakin banyak dengan volume tertentu, sebaliknya penambahan propilenglikol dari tabung 1 hingga tabung 7 semakin sedikit, sehingga jika berdasarkan uraian di atas, hendaknya larutan yang bersifat paling polar ialah larutan pada tabung 7 karena penambahan etanol yang banyak, yakni 4 ml dan tidak ditambahkan propilenglikol (0 ml). Begitupun sebaliknya, jika berdasarkan uraian di atas hendaknya larutan yang bersifat paling nonpolar ialah larutan pada tabung 1 karena pada larutan tabung 1 tidak ditambahkan etanol dan mengalami penambahan propilenglikol paling banyak jika dibanding pada tabung lain, yaitu 4 ml.
Kemudian, larutan asam salisiliat, etanol, dan propilenglikol yang telah dikocok tadi disaring dan diambil filratnya. Filtrat tersebut selanjutnya dititrasi dengan NaOH. Tujuan titrasi ini ialah untuk mengetahui konsentrasi asam salisilat. Titrasi ini disebut dengan titrasi asam basa karena zat yang hendak diketahui konsentrasinya adalah asam, yakni asam salisilat dengan menggunakan bahan baku basa sebagai penitran, dalam hal ini adalah larutan NaOH dan menggunakan indikator fenolftalein (PP) sebagai penanda berakhirnya titrasi atau tercapainya titik ekuivalen.
Semakin banyak volume larutan NaOH yang digunakan untuk menitrasi asam salisilat menandakan bahwa nilai konsentrasi asam salisilat tersebut semakin kecil, sebailknya semakin sedikit volume larutan NaOH yang digunakan untuk menitrasi asam salisilat menandakan  bahwa nilai konsentrasi asam salisilat semakin besar. Hal itu juga berkaitan dengan kepolaran larutan asam salisilat, di mana semakin meningkat nilai kepolaran suatu larutan tersebut maka semakin meningkat pula nilai konsentrasinya asam salisiat yang larut.
Berdasarkan penambahan etanol dan propilenglikol pada masing-masing tabung, maka hendaknya tabung yang membutuhkan volume NaOH paling sedikit saat titrasi adalah tabung 7 karena bersifat paling polar dan tabung yang membutuhkan volume NaOH paling banyak ialah tabung 1 karena bersifat paling nonpolar.
Namun, berdasarkan titrasi yang dilakukan saat percobaan menunjukkan bahwa volume NaOH yang dibutuhkan paling sedikit saat menitrasi asam salisilat ialah 3,8 ml pada tabung 6 dan volume NaOH yang dibutuhkan paling banyak saat menitrasi ialah 9,3 ml pada tabung 6. Perbedaan hasil terhadap teori yang telah diuraikan sebelumnya kemungkinan dipengaruhi karena terdapatnya kesalahan saat titrasi, misalnya dengan penambahan NaOH yang berlebihan sehingga melewati titik ekuivalen, ditandai dengan warna larutan yang terlalu ungu sedang larutan lain yang tidak terlalu ungu.
Beberapa hal yang telah diuraikan di atas juga berkaitan dengan konstata dielektrik pelarut campur. Dari hasil perhitungan dan grafik di atas dapat dilihat pada garis tredline bahwa konstanta dielektrik suatu pelarut campur berbanding terbalik dengan konsentrasi asam salisilat, di mana semakin tinggi nilai konsentrasi asam salisilat, maka nilai konstanta dielektriknya semakin rendah, sebaliknya semakin rendh nilai konsentrasi asam salisilat, maka nilai konstanta dielektriknya semakin tinggi.
Berbagai sifat dari larutan yang telah diuraikan di atas, seperti kepolaran, konstanta dielektrik merupakan beberapa pendukung sistem kelarutan obat.

B.            KESIMPULAN

Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1)        Beberapa faktor pendikung sistem kelarutan obat, misalnya  kepolaran pelarut dan zat terlarut, serta konstanta dielektrik.
2)        Penggunaan larutan campuran mempengaruhi jumlah asam salisilat yang terlarut. Hal ini dibuktikan dengan konsentrasi asam salisilat yang berbeda pada masing – masing tabung (tabung telah dibuat dalam tujuh perlakuan yang berebeda).

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 1995, Farmakope Indonesia Edisi IV, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.
Gandjar, Ibnu Gholib, Abdul Rohman, 2007, Kimia Farmasi Anaisis, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
Martin, Alfred, dkk, 1990, Farmasi Fisik. Dasar-dasar Farmasi Fisik Dalam Ilmu Farmasetik, Universitas Indonesia Press, Jakarta.
Widyaningsih, Linda, 2009, Pengaruh Penambahan Kosolven Propilenglikol Terhadap Kelarutan Asam Mfenamat, Skripsi, Universitas Muhamadiyah Surakarta, Surakarta.
Nugroho, Akhmad Kharis, 2000, Pengaruh Propilenglikol Terhadap Kelarutan Semu Teofilin dan Kofein, Majalah Farmasi Indonesia, Vol.3, No.11, Hal 161.
 

 











 

 






No comments:

Post a Comment